Perusahaan konsultan bisnis keuangan dan perbankan syariah, MC Consulting, memproyeksi pangsa perbankan syariah bisa mencapai tiga persen akhir tahun ini. Dengan demikan, nilai aset perbankan syariah diestimasi sekitar Rp 65 trilyun hingga Rp 70 triliun.
Setidaknya ada tiga faktor pemicu pertumbuhan ini. Pertama, masuknya beberapa bank umum syariah (BUS) baru, kedua, pesatnya bisnis BUS lama, dan ketiga, target peningkatan bisnis Unit Usaha syariah (UUS) sekitar 40 hingga 50. ”Berdasarkan pengkajian kami, perbankan syariah akan tumbuh 100 persen mencapai pangsa sekitar tiga persen. Dan nilai asetnya bisa mencapai hingga Rp 70 triliun,” ujar Direktur Utama MC Consulting, Wahyu Dwi Agung, Selasa, (22/4).
Menurutnya, perbankan syariah kemungkinan besar tidak bisa mencapai target akselerasi pangsa sebesar lima persen dari pangsa perbankan nasional. Alasannya, untuk mengejar pangsa itu, aset perbankan syariah perlu tumbuh menjadi sekitar Rp 100 miliar. Perhitungannya, kata Wahyu, aset perbankan konvensional yang dikejar, pasti juga terus tumbuh.
Wahyu menyebutkan, masuknya beberapa BUS baru seperti pendirian Bank BRI Syariah dan Bank Syariah Bukopin memiliki kontribusi besar dalam mendorong perkembangan bank syariah. Selain itu, pertumbuhan bisnis BUS seperti Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang tumbuh pesat juga diharapkan tahun ini. Faktor pendorong lainnya, adalah penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Syariah dan rencana penerbitan sukuk negara pada pertengahan tahun ini juga menjadi faktor pendukung perkembangan pangsa perbankan syariah.
Namun, kontribusi SBI Syariah masih kalah dibandingkan masuknya bank syariah baru dalam mendorong perkembangan pangsa perbankan syariah. Menurutnya, masuknya bank syariah baru berarti masuknya modal besar dalam industri perbankan syariah.
Bila salah satu aspek tersebut tidak terpenuhi tahun ini, maka pangsa perbankan syariah diproyeksi tumbuh di bawah tiga persen. Sedangkan, nilai asetnya hanya mencapai sekitar Rp 45 trilyun hingga Rp 50 triliun. Proyeksi MC Consulting dihitung berdasarkan rata-rata persentase pertumbuhan aset perbankan syariah beberapa tahun terakhir.
Menanggapi proyeksi MC Consulting tersbut, Direktur Bank Mega Syariah (BMS), Budi Wisakseno menyebutkan, ada beberapa kelemahan dalam proyeksi aset perbankan syariah itu. Menurnya, proyeksi tersebut tidak mempertimbangkan waktu masuknya BUS baru dalam industri perbankan syariah (Time-frame).
Menurut Budi, Bank BRI Syariah kemungkinan akan lahir sekitar Juni-Agustus. Sedangkan, bisnis Bank Syariah Bukopin kemungkinan baru akan mulai beroperasi efektif dan tumbuh pesat kuartal terakhir tahun ini.
”Kalau time-frame mereka seperti itu, saya kira masuknya bank syariah baru tidak akan memberikan konstribusi banyak,” ujarnya. (fkr/rol)