Goda-Gado

Ekspresi Diri

Gridiron Gang, Film Inspiratif Untuk Meminimalisir Kenakalan Remaja

Ditulis oleh Goda-Gado di/pada 24 Oktober 2008

Gridiron Gang, Film Inspiratif Untuk Meminimalisir Kenakalan Remaja

(based on true story)

Malam, hari kedua setelah lebaran, hari masih terasa sunyi. Rumah terasa sepi. Jalanan bak kota mati. Kawan-kawan dan sobat-sobat ku mungkin masih pergi. Masih sibuk beridul fitri bersama kerabat dan keluarga, bermaaf-maafan berharap menjadi suci. Orangtuaku sedang berkeliling silaturrahmi. Sementara aku terduduk sendiri di depan layar televisi. Bosan, penat, capek, bingung, dan rasa suntuk bercampur dalam otak dan hati.

Ya… Aku jadi teringat ada beberapa film yang masih ada di dalam laptopku. Belum aku tonton. Di dalam folder yang kuberi nama Cinema 21, kulihat ada puluhan film baik yang sudah sebagian aku tonton maupun yang belum aku tonton. Aku memang anggota komunitas SUFI. Maksudnya Suka Film. Jadi punya banyak file film di dalam laptop. Akhirnya aku putuskan untuk menonton film yang berjudul Gridiron Gang.

Film Gridiron Gang dibintangi oleh Dwayne “The Rock” Johnson dan Xzibit. Film ini berdasarkan pada kisah nyata (based on true story). Film ini berkisah tentang kondisi sosiologis di Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun lampau dimana lebih dari 120.000 remaja AS usia antara 16-20an tahun dipenjara di Penjara Anak di seluruh Amerika Serikat karena berbagai tindak kriminalitas. Masuknya para remaja tersebut ke hotel prodeo dilatarbelakangi oleh berbagai tindak kriminal yang bermacam-macam. Ada sebagian yang masuk jeruji penjara karena narkoba, ada yang karena mencuri, dan tidak sedikit yang terlibat pembunuhan. Munculnya tindak kriminalitas mereka tersebut tidak bisa lepas dari keberadaan keluarga mereka yang kacau (broken home) sehingga memaksa mereka mencari kasih sayang di jalanan. Ratusan bahkan ribuan remaja berkumpul karena alasan yang sama, broken home, kemudian bersosialisasi dan membentuk genk. Melalui kelompok-kelompok genk-genk inilah mereka hendak menunjukkan eksistensi dan saling memperoleh kasih sayang semu serta mendapatkan keluarga baru di jalanan dengan cara yang salah. Ujung-ujungnya, mereka menganggap pencurian, penjarahan, narkoba, perkelahian massal, dan membunuh adalah sebuah ritual biasa.

Karena tindakan-tindakan kriminal yang mereka lakukan tersebut akhirnya mereka harus masuk penjara di usia belia. Namun, hukuman penjara tidak memberikan efek jera bagi mereka. Tetapi mungkin justru menjadi tempat perkuliahan dan bertukar pikiran antar para penjahat. Diantara mereka yang kemudian bebas dari penjara, tercatat sebanyak 75% diantara mereka akan kembali ke penjara lagi karena kembali melakukan tindak kriminal atau justru menjemput maut di jalanan karena konflik antar genk yang tak jelas dan tak berujung. Film tersebut berdasarkan pada kisah nyata di Camp Kilpatrick dan petugasnya yang berusaha merubah keadaan di AS. Para petugas di Camp Kilpatrick ingin memberikan sumbangsih dalam mengeliminir dan mengurangi tingkat kenakalan remaja AS saat itu dengan cara mereka sendiri.

Cara yang mereka tempuh terbilang lain dari yang lain. Umumnya, para pelaku kriminal selalu diposisikan sebagai sosok bersalah dan harus menerima hukuman atas kesalahannya itu tanpa diberi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki sendiri. Akhirnya, hidup mereka seringkali berpindah-pindah dari penjara satu ke penjara lain. Berpindah dari kejahatan satu kepada kejahatan yang lain sampai mati menjemput mereka. Namun di Camp Kilpatrick, para penjahat kecil tersebut diberi kesempatan untuk membuktikan diri mereka bahwa mereka bukanlah sampah masyarakat, tetapi sebuah mutiara hitam yang belum terasah. Beberapa penghuni Camp dipilih untuk dilatih menjadi pemain football dalam sebuah tim dari dalam penjara. Mereka diberi bekal motivasi melalui olahraga. Mereka dididik memiliki solidaritas dalam sebuah tim dengan cara yang lebih tepat. Mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Tak berhenti dengan berlatih football semata. Mereka pun diberi kesempatan untuk bertanding dalam sebuah liga football melawan tim-tim football di seantero AS, yang nota bene bukanlah para penghuni penjara. Dari sini, mereka belajar merasakan kegagalan, kekalahan, kesedihan, dan kekompakan dalam menjalani sepotong roti kehidupan.

Dalam tahun pertama uji coba program pelatihan football di dalam penjara tersebut, menghasilkan sebuah data statistik yang membawa angin positif. Kendatipun tidak bisa menghapus kenakalan remaja secara menyeluruh, program tersebut menuai sebuah kesuksesan yang diharapkan mampu menurunkan tingkat kenakalan remaja. Dari seluruh tim football Camp Kilpatrick tahun pertama yang seluruhnya dibebaskan dari penjara, tercatat 24 orang remaja akhirnya kembali bersekolah. Kemudian 3 orang memiliki pekerjaan tetap dan hanya 5 orang yang kembali ke penjara.

Salah satu diantara mereka yang memperoleh pekerjaan tetap bernama Junior Palaita, yang setelah keluar dari penjara, ia bekerja di sebuah perusahaan furniture. Selanjutnya, Kelwin Owens adalah contoh alumni tim yang kemudian melanjutkan sekolah di SMU Washington setelah keluar dari penjara. Di sana ia bermain sebagai anggota tim football setempat. Kenny Bates bersekolah di redondo Beach dan tinggal rukun bersama ibunya setelah sebelumnya mengalami broken home. Leon Hays yang sebelumnya punya pendapatan sebagai bandar narkoba dengan pendapatan uang 5-10 kali lipat dari gaji sipir penjara tiap bulannya, berusaha menghindari narkoba dengan masuk SMU Dorsy dan bermain untuk sekolahnya. Sedangkan diantara yang kembali ke penjara adalah Miguel Perez dan Donald Madlock. Yang paling membuat sedih adalah Bug Wendel yang merupakan anggota mantan tim football Camp Kilpatrick paling muda yang masuk penjara karena menjambret dan menusuk seorang ibu di jalan, selepas keluarnya dari penjara, tewas dalam sebuah penembakan di Compton. Yang paling istimewa dari tim tersebut adalah bernama Willie Weathers, yang masuk penjara karena membunuh ayahnya, pada akhirnya mendapatkan beasiswa penuh untuk bermain football di sebuah sekolah asrama ternama. Ia sudah meninggalkan dunia genk-nya.

Agaknya, film ini menurutku sangat pantas ditonton oleh para remaja SMP dan SMA yang sedang mencari identitas diri agar dapat menentukan arah yang tepat. Mungkin juga, film ini menurutku sangat pantas untuk ditonton oleh para guru di sekolah-sekolah, kepala-kepala sekolah, dan para guru BP/BK yang terbiasa menggunakan pendekatan sanksi dan hukuman kepada anak didiknya yang melakukan pelanggaran agar berusaha memberikan pendekatan yang lebih kekeluargaan terhadap anak didiknya yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dan terlibat kenakalan remaja. Sehingga paradigma lama yang diterapkan oleh kebanyakan sekolah di Indonesia dimana jika ada siswa-siswinya yang melangar lalu disidang di ruang BP/BK kemudian orangtuanya dipanggil dan berujung pada pengeluaran dari sekolah sudah bisa ditinggalkan. Fakta membuktikan hukuman dan sanksi tidak membuat mereka jera tetapi justru membuat mereka semakin kuat dan ”kreatif” untuk berulah. Wallahu a’lam. (fikreatif)

Kalau dah nonton, leave your comments please..!!!!!!!!

Bagi yang belum nonton, tonton aja deh…!!!

5 Tanggapan ke “Gridiron Gang, Film Inspiratif Untuk Meminimalisir Kenakalan Remaja”

  1. adit berkata

    nice movie….banyak memberiku inspirasi…maklum lah….q kul dikependidikan olahraga…

  2. Eve berkata

    sip2. emang bagus banget kq film ini. ga hanya belajar masalah gimana mbuat orang merasa penting, tapi gimana mbuat orang ngerasa diperlukan dalam sebua tim. sip2…

  3. loper berkata

    hey cewek boleh kenalan nggak? nama kamu siapa?nama aku jakay aku tinggal di blitar……………..

  4. jakay berkata

    lemari apa yang bisa di lipat dan disobek?
    jawab:lemaribuan.

  5. ROBY berkata

    PAKU OPO SENG DILEBOKNE BENGKONG?
    JAWAB:PAKUNTOL.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>